DIGITAL MAGAZINE
FRI VOL VIII/06 2013
Dari sisi gizi, susu (dan produk-produk olahan susu) merupakan produk pangan yang padat gizi. Sebagai bahan pangan yang mampu mencukupi kebutuhan gizi untuk bayi yang baru lahir, susu dikenal sebagai bahan pangan yang hampir sempurna. Barangkali, hal inilah yang mendasari dikembangkannya pedoman gizi yang lalu -empat sehat lima sempurna. Namun demikian, menempatkan susu sebagai produk pangan sempurna bisa terasa berlebihan. Lepas dari ini, susu (juga keju, yoghurt, dan prosuk susu lainnya) berpotensi mempunyai nilai gizi yang baik dan karenanya, mempunyai potensi manfaat bagi kesehatan masyarakat.
Paling tidak, susu, keju dan yogurt, berpotensi sebagai sumber berbagai zat gizi penting bagi kesehatan tubuh manusia antara lain kalsium, potasium, fosfor, magnesium, vitamin D, A, B12, riboflavin dan niasin. Hanya saja, hingga 2012, konsumsi susu Indonesia masih tercatat cukup rendah yakni sekitar 12,85 liter susu per kapita per tahun. Namun demikian, angka konsumsi yang masih tergolong rendah tersebut, telah menyebabkan sekitar 70% kebutuhan susu harus dipenuhi dengan impor. Hal ini disebabkan karena angka produksi susu nasional juga tergolong rendah, yakni sekitar 1 juta ton pada 2012 (angka sementara) atau meningkat 4,44% dibandingkan 2011.
Kondisi ini jelas menjadi tantangan (dan juga peluang) bagi Indonesia, kondisi inilah yang menyebabkan susu dan produk susu menjadi sangat dilematis, dan sekaligus seksi; "Sexy" Dairy Industry.
Terlihat bahwa baik pemerintah, industri, dan konsumen (masyarakat) mencari solusi tepat untuk menempatkan susu (dan produk olahannya) sebagai salah satu jenis produk pangan pembentuk menu pangan Indonesia untuk berkontribusi optimal pada pembangunan gizi masyarakat.
Tumbuhnya industri susu dan olahannya di Indonesia merupakan respon yang bisa kita lihat dari kondisi tersebut. Tidak hanya itu, berbagai inovasi untuk menawarkan aneka jenis produk susu juga berkembang pesat. Inovasi ini juga mencakup sisi kemasan, tidak hanya untuk memudahkan distribusi dan konsumsi, tetapi juga untuk mengoptimalkan mutu dan masa simpan, serta menjamin keamanan produk susu. Inovasi juga berkembang untuk mengekploitasi manfaat kesehatan dari susu dan produk-produk susu.
Hal penting yang perlu diantisipasi dengan komprehensif adalah adanya potensi Indonesia untuk hanya dijadikan pasar prospektif bagi susu dan produk-produk susu.
Karena alasan itu, sekaligus dalam rangka memperingati Hari Susu Nusantara, FOODREVIEW INDONESIA kembali menyajikan topik khusus tentang susu dan produk olahannya.
Selamat membaca.
Pemimpin Redaksi
Prof. Purwiyatno Hariyadi