DIGITAL MAGAZINE
FRI VOL XII/03 2017
HAPPY INDULGENCE
Sometimes, it's just easier to say yes to that extra snack or dessert, because frankly, it is exhausting to keep saying no. Michelle Obama
Peranan pangan memang tidak terbatas untuk pemenuhan kebutuhan gizi dan menjaga kesehatan; tetapi juga mempunyai peran sosial dan budaya. Dalam konteks inilah maka; konsumsi pangan harus juga memberikan kenikmatan dan memanjakan sensori (indulgence) saat dikonsumsi. Dalam peranannya sebagai pemberi kenikmatan inilah muncul kategori produk makanan ringan.
Kebiasaan mencari kenikmatan menyenangkan dengan mengonsumsi makanan ringan ini telah menjadi tradisi dan kebiasaan sebagian konsumen. Happy Indulgence. Kebiasaan ngemil (snacking) inilah yang telah menjadi faktor pendorong tumbuh dan berkembangnya industri makanan di Indonesia, termasuk industri ingridien -seperti- industri krim isian untuk biskuit dan enzyme modifi ed cheese (EMC) pada produk bakeri, dan sebagainya.
Namun demikian, konsumen juga semakin demanding, memiliki tuntutan yang tinggi. Konsumen tidak hanya menuntut bahwa produk harus memberikan kenikmatan (indulgence), tetapi juga harus menyehatkan (healthfull), praktis dan mudah (convenience) untuk dikonsumsi kapan saja. Kategori produk yang memiliki peluang besar memenuhi ketiga tuntutan tersebut adalah produk makanan ringan (snack).
Oleh karena itu, inovasi untuk menciptakan produk yang memberikan kenikmatan, praktis, dan juga menyehatkan perlu menjadi perhatian karena membuka peluang tersendiri bagi industri. Misalnya; inovasi penggunaan bahan baku lokal (misalnya talas, ubi, dan singkong) dan atau pengembangan fl avor sesuai dengan kebiasaan bagi penikmatnya; perlu selalu diusahakan untuk memenuhi tuntutan kenikmatan, kepraktisan, dan sekaligus kesehatan.
Akhirnya, semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk berkontribusi peningkatan daya saing produk dan industri pangan.
Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi