What's new
Magazine Information
FRI Vol XV/05 2020
Editorial

CONFECTIONERY STORY

All you need is love. But a little chocolate now and then doesn’t hurt. Charles M. Schulz (Cartoonist, 1922-2000).

Dessert is probably the most important stage of the meal, since it will be the last thing your guests remember before they pass out all over the table. William Powell (Actor, 1892-1984)

Indonesia memang kaya aneka ragam jenis pangan. Jenis pangan dan kebiasaan makan suatu masyarakat memang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial dan budaya, pendidikan, kesehatan, pengalaman dan lain-lain. Karena itu, pangan mempunyai banyak arti dan nilai. Pangan bisa berarti budaya, bisa juga berarti identitas. Di suatu masyarakat tertentu, selalu ada tradisi dan budaya yang bercerita tentang produk pangan, kebiasaan makan, khasiat dan tentu saja komposisi nilai gizinya.

Demikian pula dengan produk konfeksioneri. Contoh produk konfeksioneri ini adalah produk-produk permen (kembang gula) dan cokelat. Kekayaan Indonesia juga luar biasa. Sebut saja ampyang (kembang gula khas Jawa, terbuat dari kacang tanah dan gula jawa), gulali, dan dodol. Dodol, misalnya, mempunyai nama yang berbeda di daerah yang berbeda, seperti wajit, jenang, lempok, dan gelinak, yang menunjukkan adanya tradisi, khususnya tradisi pengolahan pangan berdasarkan bahan baku yang sesuai dengan sumber daya khas daerahnya.

Produk konfeksioneri ini biasanya dikonsumsi sebagai hadiah, sebagai hiburan, sebagai “sesuatu yang istimewa” karena produk ini memberikan kenikmatan yang tinggi. Juga sebagai oleh-oleh yang berharga. Nikmat? Ya, karena produk konfeksioneri adalah kelompok produk pangan yang umumnya memiliki kandungan gula dan/atau lemak yang tinggi. Terlepas dari nasihat dan saran gizi dari berbagai lembaga berwenang, untuk mengurangi konsumsi gula dan lemak, produk konfeksioneri tetap mempunyai tempat yang spesial dalam budaya makan berbagai bangsa. Termasuk di Indonesia.

Pangan memang tidak pernah hanya dinilai dari sisi gizi saja. Walaupun produk konfeksioneri sering dilabel dengan istilah “junk food”, misalnya, produk yang memang menonjolkan aspek kenikmatan dan kesenangan (enjoyment and indulgence) ini tetap mempunyai tempat di masyarakat. Tantangannya adalah, bagaimana industri bisa berinovasi, sehingga mampu menawarkan produk konfeksioneri yang tetap nikmat dan menyenangkan, tetapi juga memberikan fungsi baik untuk kesehatan, sesuai tradisi, serta tetap menarik untuk menjadi objek cerita. Confectionery Story.

FOODREVIEW INDONESIA edisi kali ini akan membahas beberapa produk konfeksioneri. Tidak lupa, pada masa pandemi COVID-19 ini, industri pangan harus mampu beradaptasi dan mengambil pelajaran, di mana orang-orang yang bekerja memproduksi pangan aman dan bermutu perlu dijaga agar tetap sehat dan selamat. Seperti halnya udara yang kita hirup, dan air yang kita minum, pangan merupakan hal esensial untuk kehidupan, pangan adalah kebutuhan dasar manusia. Karena itu, produksi pangan perlu terus dijaga keberlangsungannya.

Semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

Daftar Isi

FORUM
FOOD INFO-LINTAS PANGAN

PERSPEKTIF

  • COVID-19 dan Keamanan Pangan: Sepuluh Pelajaran untuk Industri Pangan

OVERVIEW

  • Tantangan Pengembangan Produk Permen
  • Produk Konfeksioneri dan Konsumen Indonesia
  • Healthier Chocolate Products: Industrial Strategies and Challenges

ASOSIASI

  • Industri Pangan Indonesia Bersiap Hadapi COVID-19

INGRIDIEN

  • Gula Palma: Pemanis Altenatif untuk Produk Konfeksioneri
  • Peran Penting Hidrokoloid dalam Produk Konfeksioneri
  • Inovasi Formulasi Biskuit Rendah Lemak
  • Tren & Proses Produksi Cokelat